contoh laporan keuangan dan flowcatnya

Arus Kas

Arus kas atau aliran kas adalah catatan harian mengenai pengeluaran dan pemasukan keuangan dari usaha yang Anda jalankan. Setiap ada pengeluaran dan pemasukan itu harus dicatat.

Catatan mengenai arus kas ini sangat penting. Pasalnya, catatan arus kas ini merupakan bahan dasar untuk membuat laporan keuangan yang lain. Jadi, dari catatan sederhana inilah suatu usaha bisa dianalisis. Sebaiknya, dibedakan buku untuk pos pengeluaran dan pendapatan. Dari catatan harian ini Anda bisa membuat rekapitulasi per bulan. Inilah yang disebut laporan arus kas (cash-flow).

Sebelum memulai usaha, anda juga bisa membuat proyeksi aliran kas ini, yaitu perkiraan aliran kas berdasarkan asumsi-asumsi pengeluaran dan pemasukan dari usaha yang hendak Anda tekuni. Proyeksi aliran kas ini berguna untuk mengetahui berapa banyak modal yang harus Anda setor di awal dan Anda cadangkan selama usaha Anda berjalan. Juga berapa lama waktu yang Anda perlukan untuk bisa balik modal.

Di luar itu, proyeksi aliran kas nantinya juga berguna ketika usaha sudah mulai berjalan dengan benar.

Skenario:

Pada tanggal 14 Juli tahun lalu, Ibu Nita memutuskan memulai usaha dengan membeli waralaba gerai makanan paket XXX. Berdasarkan proyeksi aliran kas yang disodorkan pewaralaba, gerai makanan Ibu Nita diasumsikan bisa memperoleh pendapatan sebear Rp 90.000.000 tiap bulan.

Artinya, dalam tempo enam bulan pendapatan Ibu Nita seharusnya mencapai Rp 540.000.000. Dengan begitu, modal ibu Nita bisa kembali dalam tempo sekitar 11 bulan. Untuk memulai usaha, Ibu Nita menggelontorkan sejumlah dana segar, Rp 140.000.000 dari koceknya sendiri, dan Rp 120.000.000 dia dapatkan dari berutang dari keluarga. Kenyataannya, bisnis tak secerah proyeksinya. Omzetnya tidak mencapai Rp 90 juta sebulan. Maka, catatan arus kas usaha Ibu Nita akan tampak seperti pada tabel.

Laporan Rugi Laba

Berdasarkan catatan aliran kas tadi, Anda bisa membuat laporan rugi laba. Intinya, laporan rugi laba ini berisi pendapatan dikurangi dengan biaya-biaya sehingga diketahui apakah usaha tersebut mengalami untung atau malah rugi. Tapi ingat, anda harus mengeluarkan faktor aset, modal, barang, dan utang dari laporan keuangan ini.

Dalam menyusun laporan rugi laba, Anda sebaiknya memasukkan unsur depresiasi. Caranya gampang. Untuk pembukuan sederhana kita bisa memakai metode garis lurus (lihat tip). Asumsi metode ini: kita menganggap sebuah barang mempunyai masa pakai tertentu dan nilai penyusutannya adalah pembagian antara harga pembeliannya dengan masa pakainya. Katakanlah peralatan Ibu Nita kita anggap bisa dipakai untuk jangka waktu tiga tahun. Maka penyusutan per bulannya adalah: nilai peralatan dibagi dengan 36 bulan. Untuk kendaraan kita asumsikan usianya lima tahun. Itu sebabnya, untuk penyusutan kendaraan per bulan rumusnya nilai kendaraan dibagi 60 bulan.

Dari sini Anda bisa mengambil kesimpulan. Bila hasilnya ternyata rugi, Anda bisa mengevaluasi peyebab kerugiannya. Selanjutnya, Anda bisa memutuskan apakah penyebab kerugian tersebut bisa diatasi atau Anda malah harus menutup usaha tersebut untuk mencegah kerugian lebih lanjut. Contoh laporan rugi laba yang dijalankan Ibu Nita untuk periode enam bulan bisa Anda lihat pada tabel.

Dari laporan rugi laba tersebut terlihat, dalam tempo enam bulan usaha Ibu Nita sudah mampu menghasilkan keuntungan. Sebab, seluruh biaya sudah ditutup oleh pendapatannya. Sayang, pendapatan yang dihasilkan masih dibawah asumsi aliran kas yang dibuat pada waktu awal usaha, yaitu sebesar Rp 540 juta. Alhasil, perlu waktu lebih lama untuk bisa kembali modal. Jadi, sekarang Ibu Nita bisa mengevaluasi, apa yang menyebabkan usahanya tak bisa berjalan sesuai rencana.

Neraca

Neraca penting dibuat setidaknya setahun sekali, untuk mengetahui nilai perusahaan Anda dari waktu ke waktu. Saat awal perusahaan, neraca perusahaan biasanya hanya terdiri dari modal awal dan utang serta aset yang diperoleh dari belanja modal tersebut. Aset termasuk sebagai aktiva, sementara utang dan modal masuk sebagai pasiva.

Seiring waktu, aset perusahaan bisa bertambah, bisa pula terjadi utang-piutang, atau cadangan kas menjadi berkurang atau bertambah, dan lain-lain. Intinya, nilai perusahaan bisa saja bertambah atau berkurang karena perusahaan mengalami keuntungan atau kerugian.

Dari skenario yang sama, neraca usaha Ibu Nita untuk enam bulan pertama bisa Anda lihat pada tabel.

Arus Kas

Dalam Juta rupiah

Juli
Agustus
Sept
Okt
Nov
Des
Total
MASUK
Setoran Modal
140
140
Utang
120
120
Omzet
30
50
60
80
80
80
380
Total masuk
290
50
60
80
80
80
KELUAR
Biaya waralaba 5 tahun
60
60
Peralatan
60
60
Mobil operasional
60
60
Sewa tempat 6 bulan
30
30
Belanja bahan baku
30
30
36
48
48
48
240
Gaji 15 karyawan
5,25
10,5
10,5
10,5
10,5
10,5
57,75
Promosi bersama
1,5
1,5
1,5
1,5
1,5
1,5
9
Lain-lain
0,25
0,5
0,5
0,5
0,5
0,5
2,75
Total Keluar per bulan
247
42,5
48,5
60,5
60,5
60,5
Arus kas bersih perbulan
43
7,5
11,5
19,5
19,5
19,5
Saldo bulan sebelumnya
-
43
50,5
62
81,5
101
Sisa kas pada akhir bulan
43
50,5
62
81,5
101
120,5

Rugi Laba Neraca

Dalam juta rupiah Dalam juta rupiah

Omzet
380
AKTIVA
Bahan Baku
240
Kas
120,5
Laba Kotor
140
Sisa fee waralaba
54
Kendaraan
54
Karyawan
57,75
Peralatan
50
Sewa
30
Total Aktiva
278,5
Promosi
9
Lain-lain
2,75
PASIVA
Waralaba
6
Utang
120
Depresiasi Kendaraan
6
Modal
140
Depresiasi Peralatan
10
Laba ditahan
18,5
Total biaya
121,5
Total Pasiva
278,5
Laba bersih
18,5

Catatan:

· Kas adalah nilai seluruh uang kas yang tersisa pada saat tanggal neraca dibuat.

· Sisa fee waralaba adalah fee waralaba yang sudah terbayar selama lima tahun dikurangi dengan fee yang sudah terpakai selama enam bulan.

· Nilai kendaraan dan peralatan adalah harga pada saat membeli dikurangi penyusutan selama enam bulan

· Laba ditahan adalah total laba selama enam bulan









PRODUKSI DALAM BISNIS

PRODUKSI DALAM BISNIS

Produksi

Produksi adalah suatu kegiatan yang menghasilkan output dalam bentuk barang maupun jasa. Contoh: pabrik batre yang memproduksi batu baterai, tukang mie ayam yang membuat mie yamin, tukang pijat yang
memberikan pelayanan jasa pijat dan urut kepada para pelanggannya, dan lain sebagainya.

Perbedaan Barang dan JasaKetika kita menyebut suatu barang, kita sering mengatakan sebagai satu produk, termasuk ketika kita mengatakan, "PT KAI harus memperbaiki produk yang mereka jual agar pelanggan tidak kecewa..." Bagi seorang pemasar (marketer) harus bisa membedakan dengan jelas karakteristik yang melekat baik pada jasa atau produk. Beberapa hal di bawah ini mencoba
memotret' perbedaan tersebut dengan harapan mahasiswa bisa menarik beberapa manfaat dari
tulisan ini. Enam perbedaan antara barang dan jasa, antara lain:

1) Barang jelas bisa dipegang sedangkan jasa tidak bisa dipegang. Ketika sebuah pabrik sepatu menemukan cacat pada produknya, mereka dengan mudah mengamati sepatu
tersebut dan kemudian menemukan solusinya. Ketika seorang pelanggan salon mengeluh
pegawai salon kurang ramah, manajemen salon itu tidak bisa langsung menemukan sebab
keluhan itu. Ia harus mengamati ketika terjadi 'transaksi' yaitu ketika pegawai salon
memberi layanan kepada pelanggannya.

2) Lebih banyak interaksi antara penyedia jasa dengan pelanggannya. Ini berbeda dengan
produk. Ketika kita membeli handphone, kita tidak tahu siapa orang-orang yang
membuatnya. Tapi ketika kita ikut kursus bahasa Inggris, kita langsung berinteraksi
dengan penyedia jasa, dan interaksi ini cukup sering, jauh lebih sering dibanding ketika
kita membeli barang.

3) Pada jasa, terdapat keterlibatan dalam produksi jasa tersebut. Ketika anda membeli
jasa penerbangan, anda ikut terlibat langsung dalam produksi itu. Anda tidak bisa
'ongkang-ongkang kaki' di rumah ketika ikut dalam penerbangan itu. Tapi begitu anda
ingin membeli laptop, anda bisa beli dari internet dan anda tidak terlibat sama sekali
dalam proses produksi laptop tersebut.

4) Ada persoalan serius ketika kita ingin mengontrol kualitas dan konsistensi jasa yang
kita jual. Ketika anda menabung di bank, dan ketika itu pegawai bank sedang banyak
masalah, mungkin anda akan dilayani dengan wajah merengut, tidak ramah. Anda jelas
tahu bahwa bank itu dikenal ramah dalam melayani pelanggannya. Tapi karena
pegawainya adalah manusia yang tentu sering susah, maka kualitas layanan sering
terganggu. Ketika ganti pegawai pun, kualitas dan konsistensi pelayanan

5) Tidak adanya persediaan (inventory) untuk jasa. Lihat hotel-hotel berbintang di sekitar
Anda. Ketika malam lewat dengan tenang dan kamar-kamar kosong, maka berlalu pula
kesempatan hotel itu untuk memperoleh pendapatan. Ini jelas karena hotel-hotel yang
kosong tidak bisa 'disimpan'. Jelas berbeda dengan produk, hari ini tidak laku, kita
simpan produk itu, dan esok hari bisa kita jual lagi...hingga laku.


6) Pentingnya waktu bagi pelanggan jasa. Betapa kesalnya Anda ketika Anda cukup lama
untuk antri membayar pajak. Anda ingin 'membuang' uang, tapi malah antri lama. Kesal
bukan? Ini titik kritisnya. Jika Anda menjual jasa perhatikan agar pelanggan jangan
menunggu lama. Lakukan pelayanan secepat mungkin. Beli produk? beli buku dari luar
negeri? Saya cukup sabar jika buku itu datang lebih dari seminggu. Mengantri karcis di
bioskop? Jika lebih dari lima belas menit, lebih baik saya tidak menonton film tersebut.


Perencanaan Lokasi

Perencanaan lokasi merupakan salah satu
aktifitas awal yang harus dilakukan pra
operasionalisasi perusahaan. Lokasi
direncanakan dengan tujuan yang sudah tidak
asing terdengar, yaitu efektif dan efisien atau
dengan kata lain disebut baik. Tujuan perencanaan lokasi untuk menentukan lokasi
perusahaan sebaik mungkin agar beroperasi
maupun berproduksi dengan lancar. Penentuan
lokasi yang baik akan memberikan output
kemampuan perusahaan. Kemampuan tersebut,
diantaranya perusahaan mampu melayani konsumen dengan memuaskan, memperoleh
bahan mentah yang cukup dan berkesinambungan pada harga yang diinginkan, mendapatkan tenaga kerja berkinerja, dan dikemudian hari mampu memperluas diri. Dengan demikian, dapat digoreskan empat variabel penentu lokasi usaha yang baik paling tidak mesti mempertimbangkan pasar, bahan baku, tenaga kerja, dan kesempatan perluasan. Banyak perusahaan didirikan dekat dengan pasar agar menggapai kuantitas maupun kualitas konsumen, cepat memberikan pelayanan, dan atau memperoleh biaya pengiriman yang hemat. Variabel pasar juga mempertimbangkan aspek keamanan produk serta kemungkinan
kerusakan selama dalam perjalanan pengiriman. Bagi perusahaan jasa tidak terhindarkan variabel
pasar dengan indikator kedekatan pasar lantas diukur secara ordinal melaui ukuran tingkat
kedekatan lokasi perusahaan dengan pasar adalah penting untuk dekat.
Perusahaan memerlukan bahan mentah untuk diolah. Bahan mentah tersebut, diangkut
dari tempat asal menuju lokasi perusahaan terkait. Perusahaan berkepentingan selalu
memperoleh bahan mentah secara mudah, murah dan cepat pada biaya yang minimal. Terdapat
dua alasan mengapa lokasi perusahaan dekat dengan tempat sumber bahan mentah. Alasanalasan
yang dimaksudkan ialah tingkat kebutuhan, dan tingkat ketahan bahan mentah. Seperti
perusahaan yang bergerak dalam bidang pertambangan maupun pengalengan ikan. Andai jauh
aduh berat memikulnya atau busuk diperjalanan.

Tenaga kerja termasuk variabel penentu lokasi usaha yang baik. Yang dipertimbangkan
berkenaan dengan misal upah tenaga kerja, kuantitas tenaga kerja, dan kualitas tenaga kerja.
Upah tenaga kerja terasa begitu krusial untuk perusahaan padat karya. Sedangkan variabel
penentu yang terakhir adalah kemungkinan perluasan. Semakin besar peluang perusahaan
memperluas dirinya di kemudian hari maka semakin baik lokasi perusahaan. Lokasi perusahaan
yang baik berhubungan dengan variabel pasar, tenaga kerja, bahan mentah, dan kemungkinan
perluasan.


Inefisiensi pada Proses Bisnis

Business process seperti kita ketahui bersama merupakan denyut nadi suatu organisasi.
Proses bisnislah yang selama ini menggerakkan roda suatu organisasi, sehingga kinerja suatu
organisasi akan sangat bergantung pada efektivitas dan efisiensi proses bisnisnya. Karena begitu
pentingnya peranan business process bagi suatu organisasi inilah maka tidak mengherankan kita
dapat menemukan berbagai macam metode dan cara untuk meningkatkan performa proses bisnis,
atau yang biasa dikenal dengan Business Process Improvement (BPI), mulai dari Six Sigma,
Total Quality Management (TQM), Business Process Re-engineering (BPR), hingga Lean.
Setiap metode tersebut memiliki karakteristik dan kelebihan masing-masing.
Pada kesempatan ini akan dibahas sekilas tentang sebuah prinsip dasar dari lean. Lean
merupakan sebuah metode yang diperkenalkan oleh Toyota, sebuah perusahaan otomotif terbesar
dunia. Lean yang nama aslinya adalah Lean Manufacturing atau Toyota Production System
memiliki tujuan utama mengeliminasi inefisiensi atau pemborosan (atau dalam bahasa jepangnya
adalah muda). Ada tujuh jenis pemborosan atau inefisiensi yang berusaha dibidik. Setiap jenis
pemborosan ini sangat sering ditemukan pada proses bisnis setiap organisasi. Berikut ini
merupakan ketujuh jenis pemborosan tersebut:

Over-Produksi
Over-Produksi dapat diartikan menghasilkan sesuatu secara berlebihan atau lebih cepat
dari yang dibutuhkan pada tahap berikutnya. Contoh bentuk inefisiensi ini antara lain pembuatan
kemasan yang lebih cepat dari isinya sehingga kemasan menumpuk di gudang (manufaktur),
mencetak laporan-laporan yang terlalu banyak yang sebenarnya “tidakâ€‌ dibutuhkan
(perkantoran), dan penambahan fitur ekstra yang kurang berguna bagi user (software
development).

Pergerakan
Pergerakan yang dimaksud di sini adalah pergerakan atau perpindahan karyawan di
tempat kerja yang terlalu sering dan cenderung berlebihan. Contohnya adalah perpindahan
karyawan untuk menata barang di gudang (manufaktur), berjalan ke/dari mesin fotokopi
(perkantoran), dan perpindahan karyawan untuk mencari informasi (software development).

Menunggu
Yang dimaksud menunggu di sini adalah ketika seseorang atau sesuatu menunggu dengan
diam dan tidak mengerjakan aktivitas apapun. Menunggu merupakan salah satu bentuk pemborosan yang sangat kentara dan banyak terjadi di organisasi apapun. Contoh pemborosan
jenis ini antara lain produksi berhenti karena mesin rusak (manufaktur), proses berhenti karena
menunggu persetujuan dari atasan (perkantoran), dan pembangunan software belum bisa dimulai
karena masih menunggu customer menyusun kebutuhan software-nya (software requirement)
terlebih dahulu (software development).

Transportasi
Transportasi yang dimaksud adalah setiap perpindahan pekerjaan atau kertas form dari
satu step ke step berikutnya pada suatu proses. Contohnya adalah pemindahan material ke atau
keluar gudang (manufaktur), perpindahan dokumen dari satu tempat ke tempat lain, atau dari
satu kantor ke kantor lain (perkantoran), serta serah terima dan instalasi hasil pengerjaan
(software development).

Proses Ekstra
Proses ekstra maksudnya adalah melakukan sesuatu yang sebenarnya sudah tidak perlu
dilakukan lagi. Contoh pemborosan jenis ini antara lain proses produksi yang tidak efisien karena
alat yang sudah tidak memadai (manufaktur), entry data yang sebenarnya telah tersedia
sebelumnya atau tersedia di divisi lain (perkantoran), kode program selalu dibuat dari awal untuk
setiap project karena tidak memiliki source code library ataupun framework (software
development).

Inventaris (Inventory)
Pemborosan pada inventaris adalah dikarenakan persediaan yang terlalu berlebihan, yang
sering tejadi karena produksi yang tidak sesuai dengan permintaan dari customer. Contohnya
dapat berupa menumpuknya bahan baku di gudang (manufaktur), persediaan peralatan kantor
yang terlalu banyak (perkantoran), dan banyaknya dokumen requirement dalam bentuk kertas
(software development).

Rusak atau Cacat
Rusak atau cacat yang dimaksud disini adalah segala bentuk kesalahan, error, atau
koreksi akibat dari pekerjaan atau aktivitas yang tidak dilakukan dengan baik sebelumnya. Rusak
atau cacat merupakan bentuk inefisiensi yang paling banyak ditemukan di semua organisasi.
Bentuk-bentuk dari pemborosan ini antara lain barang hasil produksi yang cacat (manufaktur),
input data yang salah ataupun adanya kesalahan pencetakan dokumen (perkantoran), dan bug
yang tidak ditemukan ketika fase testing (software development).
Jeffery Liker, seorang profesor dari Universitas Michigan menambahkan satu lagi pemborosan
yang sering terjadi di suatu organisasi, yaitu tidak dimanfaatkannya potensi dan kemampuan
karyawan. Sering kali kreativitas, ide, maupun skill karyawan tidak dapat sepenuhnya
dikeluarkan untuk kepentingan organisasi. Hal ini dapat disebabkan kesalahan penempatan posisi
karyawan atau karena tanggung jawab dan kewenangan yang terlalu dibatasi dalam organisasi
tersebut.

Setiap waktu organisasi selalu berusaha untuk mencari cara bagaimana meningkatkan
pendapatan dan menurunkan biaya-biaya. Pemborosan atau inefisiensi yang terjadi pada proses
bisnis sehari-hari di organisasinya tentunya sangatlah kontra-produktif dengan semangat
tersebut. Karena itu setiap organisasi yang ingin maju haruslah mampu mengidentifikasi
pemborosan-pemborosan apa saja yang masih terdapat dalam dirinya, untuk kemudian berusaha
semaksimal mungkin untuk mengeliminasinya. Selain dapat meningkatkan pendapatan dan
menurunkan biaya, manfaat lain jika pemborosan-pemborosan tersebut dapat dikurangi atau
dihilangkan antara lain mampu meningkatkan kualitas produk dan layanan yang dihasilkan,
mengurangi tingkat frustrasi pekerja, hingga dapat meningkatkan kepuasan pelanggan.

Keterangan:
1. Konsumen Barang
Pada fase ini konsumen barang memiliki permintaan akan pemenuhan kebutuhan mereka
terhadap barang – barang furniture. Untuk memenuhi kebutuhan tersebut maka mereka
datang dan mencari barang – barang furniture yang mereka kehendaki ke pasar output
atau pasar untuk barang – barang hasil produksi furniture. Pada diagram tersebut

permintaan terhadap barang – barang furniture digambarkan oleh tanda panah dari
diagram 1.konsumen barang menuju ke diagram 2. pasar output.

2. Pasar Output
Pasar output atau disebut juga pasar barang – barang hasil produksi yang menjual
furniture ini merupakan tempat bertemunya antara dua pihak yakni pihak konsumen
barang yang memiliki permintaan terhadap pemenuhan kebutuhan barang – barang
furniture dengan produsen barang yang memiliki penawaran barang – barang furniture
hasil produksi mereka. Pada pasar output inilah harga terbentuk akibat dari adanya
permintaan dan penawaran yang terjadi antara dua belah pihak. Pada pasar output inilah
kesepakatan harga akan terjadi.

3. Produsen Barang
Produsen barang biasanya akan timbul akibat adanya permintaan pemenuhan kebutuhan
barang dari konsumen barang. Akibat dari adanya permintaan yang tinggi terhadap
pemenuhan kebutuhan barang – barang furniture dari konsumen barang maka timbullah
penawaran barang dari produsen barang penghasil furniture ke konsumen barang yang
terjadi di pasar output. Pada diagram, penawaran barang – barang hasil produksi dari
produsen furniture ke konsumen digambarkan oleh tanda panah dari produsen barang
menuju ke pasar output.

4. Konsumen factor – factor produksi
Kondisi ini merupakan kondisi dimana produsen berperan sebagai konsumen. Untuk
memproduksikan sebuah furniture pastilah memerlukan banyak factor diantaranya bahan
baku yaitu kayu yang didapat dari alam, kemudian tenaga ahli pembuat furniture, tenaga
ahli ukir yang bisa didapat dari masyarakat yang memiliki keahlian tersebut dan factor
lainnya. Untuk memenuhi factor – factor tersebut maka produsen atau disebut juga
konsumen factor – factor produksi akan melakukan permintaan terhadap pasar factor –
factor produksi. Permintaan produsen terhadap pasar factor – factor produksi ini
digambarkan oleh diagram dengan tanda panah dari produsen atau konsumen factor –
factor produksi menuju ke pasar factor – factor produksi.

5. Pasar factor – factor produksi
Munculnya pasar factor – factor produksi sebagai hubungan sebab akibat dari upaya
pemenuhan permintaan factor – factor produksi dari produsen selaku konsumen factor –
factor produksi terhadap rumah tangga konsumen. Dalam hal ini kembali lagi terjadi
adanya pembentukan dan kesepakatan harga yang diakibatkan adanya permintaan dan
penawaran yang terjadi antara dua pihak.

6. Pemilik atau penjual factor produksi
Pemilik atau penjual factor produksi ini merupakan salah satu rumah tangga konsumen
yang memiliki peranan sebagai penyuplai factor – factor produksi kepada para produsen
yang menghendaki factor – factor produksi sebagai suatu kebutuhan yang harus dipenuhi.
Factor produksi bukan hanya sebatas barang – barang saja tetapi juga seperti jasa ataupun
tenaga ahli dan sumber daya manusia. Pada perusahaan furniture pemilik factor produksi
yaitu masyarakat yang mengolah kayu, tenaga ahli ukir, tenaga ahli pembuat furniture,
dsb.
















Kesimpulan
Terdapat beberapa macam bentuk pemborosan atau inefisiensi pada proses bisnis yang lazim
terjadi dalam suatu organisasi. Pemborosan atau inefisiensi ini adalah segala hal yang tidak
mendatangkan nilai atau sia-sia belaka. Usaha mengurasi inefisiensi dalam proses bisnis tersebut
merupakan suatu cara yang efektif untuk meningkatkan keuntungan dan memangkas biaya-biaya
organisasi.



Tugas SIA II Kempok :

Yossi Belgrado (34109463)
Ibnu Ubaidilah (35109699)
Moch. Sidik Sutrisno (34109770)
Rai Ardinata (31109231)
Yudha Priandoni (34109679)

Membaca Kasih Sayang ALLah

“Dan Dia (Allah) Telah memberikan kepadamu (keperluanmu) dan segala apa yang kamu mohonkan kepadaNya. Dan jika kamu menghitung nikmat Allah, tidaklah dapat kamu menghinggakannya. Sesungguhnya manusia itu, sangat zalim lagi sangat mengingkari (kufur nikmat)“. (Ibrahim: 34)

Membaca merupakan perintah pertama Allah dalam Al-Qur’an yang ditujukan langsung kepada manusia pilihan-Nya, Rasulullah saw. melalui wahyu pertama ‘Iqra’ (bacalah) dengan nama Tuhanmu yang telah menciptakan’ (Al-Alaq: 1). Membaca di sini harus difahami dalam arti yang luas karena memang objek membaca dalam wahyu pertama tersebut tidak dibatasi dan tidak ditentukan; Bacalah! Berarti beragam yang layak dan harus dibaca. Salah satu objek terbesar yang harus dibaca adalah kasih sayang Allah swt. yang terhampar di seluruh jagat raya ini tanpa terkecuali. Semuanya adalah bukti dan tanda kasih sayang Allah swt. untuk seluruh makhluk ciptaan-Nya.

Untuk itu, ayat di atas hadir untuk mengingatkan manusia akan kasih sayang Allah swt. yang memberikan segala yang dibutuhkan, sekaligus merupakan perintah untuk senantiasa membaca karunia tersebut agar tidak termasuk orang yang zalim, apalagi kufur nikmat seperti yang disebutkan di kalimat terakhir ayat tersebut di atas ‘Sesungguhnya manusia itu sangat zhalim lagi sangat ingkar nikmat.’

Tentu, ayat ini tidak berdiri sendiri seperti juga seluruh ayat-ayat Al-Quran. Setiap ayat memiliki keterkaitan dan korelasi dengan ayat sebelum atau sesudahnya yang menunjukkan wahdatul Qur’an kesatuan dan kesepaduan ayat-ayat Al-Qur’an, termasuk ayat di atas ini harus dibaca dengan mengkorelasikannya dengan dua ayat sebelumnya yang menggambarkan sekian banyak dari nikmat Allah swt. yang harus dibaca dengan penuh kesadaran:

“Allahlah Yang telah menciptakan langit dan bumi serta menurunkan air hujan dari langit, Kemudian Dia mengeluarkan dengan air hujan itu berbagai buah-buahan menjadi rezki untukmu; dan Dia pula telah menundukkan bahtera bagimu supaya bahtera itu, berlayar di lautan dengan kehendak-Nya, dan Dia telah menundukkan (pula) bagimu sungai-sungai. Dan Dia telah menundukkan (pula) bagimu matahari dan bulan yang terus menerus beredar (dalam orbitnya); dan telah menundukkan bagimu malam dan siang.” (Ibrahim: 32-33)

Ayat yang senada dengan ayat di atas dalam bentuk tantangan Allah kepada seluruh makhluk-Nya sekaligus perintahNya untuk membaca hamparan karunia nikmat-Nya yang tiada terhingga adalah surah An-Nahl: 18

“Dan jika kamu menghitung-hitung nikmat Allah, niscaya kamu tak dapat menentukan jumlahnya. Sesungguhnya Allah benar-benar Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” Dalam penutup ayat ini Allah swt. hadir dengan dua sifat yang merupakan puncak dari kasih sayang-Nya, yaitu Maha Pengampun lagi Maha Penyayang’.

Ibnu Katsir mengungkapkan penafsirannya dalam kitab Tafsir Al-Qur’an Al-Azhim bahwa selain dari perintah Allah untuk membaca nikmat Allah, pada masa yang sama merupakan sebuah pernyataan akan ketidak berdayaan hamba Allah swt. dalam menghitung nikmat-Nya, apalagi menjalankan kesyukuran karenanya, seperti yang dinyatakan oleh Thalq bin Habib:

“Sesungguhnya hak Allah sangat berat untuk dipenuhi oleh hamba-Nya. Demikian juga nikmat Allah begitu banyak untuk disyukuri oleh hamba-Nya. Karenanya mereka harus bertaubat siang dan malam.”

Membaca kasih sayang Allah merupakan langkah awal mensyukuri nikmat-Nya. Untuk membuktikan bahwa seseorang telah melakukan syukur nikmat, paling tidak terdapat empat langkah yang harus dipenuhinya: pertama, Mengekpresikan kegembiraan dengan kehadiran nikmat tersebut. Kedua, Mengapresiasikan rasa syukur atas nikmat tersebut dengan ungkapan lisan dalam bentuk pujian. Ketiga, membangun komitmen dengan memelihara dan memanfaatkan nikmat tersebut sesuai dengan kehendak Sang Pemberi nikmat. Keempat, Mengembangkan dan memberdayakannya agar melahirkan kenikmatan yang lebih besar di masa yang akan datang sesuai dengan janji Allah swt. dalam firman-Nya:

“Jika kalian bersyukur maka akan Aku tambahkan nikmat-Ku kepadamu.” (Ibrahim: 7) Di sini kesyukuran justru diuji apakah dapat membuahkan kenikmatan yang lain atau malah sebaliknya, menghalangi hadirnya nikmat Allah swt. dalam bentuk yang lainnya.

Ternyata memang mega proyek Iblis terhadap manusia adalah bagaimana menjauhkannya dari kasih sayang Allah swt. sehingga mereka senantiasa hanya membaca ujian dan cobaan yang menimpanya agar mereka tidak termasuk kedalam golongan yang mensyukuri nikmat-Nya. Padahal secara jujur, kasih sayang Allah swt. dalam bentuk anugerah nikmat-Nya pasti jauh lebih besar daripada ujian maupun sanksi-Nya. Di sini, kelemahan manusia membaca nikmat merupakan keberhasilan proyek iblis menyesatkan manusia. Allah menceritakan tentang proyek

Iblis dalam firman-Nya:

“Iblis menjawab: “Karena Engkau Telah menghukum saya tersesat, saya benar-benar akan (menghalang-halangi) mereka dari jalan Engkau yang lurus. Kemudian saya akan mendatangi mereka dari muka dan dari belakang mereka, dari kanan dan dari kiri mereka. dan Engkau tidak akan mendapati kebanyakan mereka bersyukur.“ (Al-A’raf: 16-17)

Dalam konteks ini, sungguh usaha dan kerja Iblis tidak main-main. Ia akan memperdaya manusia dari seluruh segmentasi dan celah kehidupannya tanpa terkecuali. Dalam bahasa Prof. Mutawalli Sya’rawi, “Syaitan akan datang kepada manusia dari titik lemahnya (ya’tisy Syaithan min nuqthah dha’f lil insan).” Jika manusia kuat dari aspek harta, maka ia akan datang melalui pintu wanita. Jika ia kuat pada pintu wanita, ia akan datang dari pintu jabatan dan begitu seterusnya tanpa henti. Sehingga akhirnya hanya segelintir manusia yang akan selamat dari bujuk rayu syetan dan menjadi pribadi yang bersyukur. Allah swt. pernah berpesan kepada Nabi Daud dan keluarga-Nya agar mewaspadai hal tersebut dalam firman-Nya: “Bekerjalah Hai keluarga Daud untuk bersyukur (kepada Allah). dan sedikit sekali dari hamba-hamba-Ku yang berterima kasih (bersyukur).“ (Saba’: 13)

Memang hanya sedikit sekali yang cerdas dan bijak membaca kasih sayang Allah swt. Selebihnya adalah manusia yang suka berkeluh kesah, mengeluh dan tidak bersyukur atas karunia nikmat yang ada. Bahkan kerap menyalahkan orang lain, su’uzhan dan berprasangka buruk kepada Allah. Padahal kebaikan dan pahala sikap syukur itu akan kembali kepada dirinya sendiri, bukan kepada orang lain. Karenanya ujian kesyukuran itu akan terus menyertai manusia sampai Allah benar-benar tahu siapa yang bersyukur diantara hamba-Nya dan siapa di antara mereka yang kufur. ‘Ya Allah, jadikanlah kami termasuk golongan yang sedikit.‘ Allahu a’lam

Tiga Langkah Menjadi Manusia Terbaik

                              TIGA LANGKAH MENJADI MANUSIA  TERBAIK
Ada hadits pendek namun sarat makna dikutip Imam Suyuthi dalam bukunya Al-Jami’ush Shaghir. Bunyinya, “Khairun naasi anfa’uhum linnaas.” Terjemahan bebasnya: sebaik-baik manusia adalah siapa yang paling banyak bermanfaat bagi orang lain.

Derajat hadits ini ini menurut Imam Suyuthi tergolong hadits hasan. Syeikh Nasiruddin Al-Bani dalam bukunya Shahihul Jami’ush Shagir sependapat dengan penilaian Suyuthi.

Adalah aksioma bahwa manusia itu makhluk sosial. Tak ada yang bisa membantah. Tidak ada satu orangpun yang bisa hidup sendiri. Semua saling berketergantungan. Saling membutuhkan.

Karena saling membutuhkan, pola hubungan seseorang dengan orang lain adalah untuk saling mengambil manfaat. Ada yang memberi jasa dan ada yang mendapat jasa. Si pemberi jasa mendapat imbalan dan penerima jasa mendapat manfaat. Itulah pola hubungan yang lazim. Adil.

Jika ada orang yang mengambil terlalu banyak manfaat dari orang lain dengan pengorbanan yang amat minim, naluri kita akan mengatakan itu tidak adil. Orang itu telah berlaku curang. Dan kita akan mengatakan seseorang berbuat jahat ketika mengambil banyak manfaat untuk dirinya sendiri dengan cara yang curang dan melanggar hak orang lain.
Begitulah hati sanubari kita, selalu menginginkan pola hubungan yang saling ridho dalam mengambil manfaat dari satu sama lain. Jiwa kita akan senang dengan orang yang mengambil manfaat bagi dirinya dengan cara yang baik. Kita anggap seburuk-buruk manusia orang yang mengambil manfaat banyak dari diri kita dengan cara yang salah. Apakah itu menipu, mencuri, dan mengambil paksa, bahkan dengan kekerasan.
Namun yang luar biasa adalah orang lebih banyak memberi dari mengambil manfaat dalam berhubungan dengan orang lain. Orang yang seperti ini kita sebut orang yang terbaik di antara kita. Dermawan. Ikhlas. Tanpa pamrih. Tidak punya vested interes.
Orang yang selalu menebar kebaikan dan memberi manfaat bagi orang lain adalah sebaik-baik manusia. Kenapa Rasulullah saw. menyebut seperti itu? Setidaknya ada empat alasan. Pertama, karena ia dicintai Allah swt. Rasulullah saw. pernah bersabda yang bunyinya kurang lebih, orang yang paling dicintai Allah adalah yang paling bermanfaat bagi orang lain. Siapakah yang lebih baik dari orang yang dicintai Allah?
Alasan kedua, karena ia melakukan amal yang terbaik. Kaidah usul fiqih menyebutkan bahwa kebaikan yang amalnya dirasakan orang lain lebih bermanfaat ketimbang yang manfaatnya dirasakan oleh diri sendiri. Apalagi jika spektrumnya lebih luas lagi. Amal itu bisa menyebabkan orang seluruh negeri merasakan manfaatnya. Karena itu tak heran jika para sahabat ketika ingin melakukan suatu kebaikan bertanya kepada Rasulullah, amal apa yang paling afdhol untuk dikerjakan. Ketika musim kemarau dan masyarakat kesulitan air, Rasulullah berkata membuat sumur adalah amal yang paling utama. Saat seseorang ingin berjihad sementara ia punya ibu yang sudah sepuh dan tidak ada yang merawat, Rasulullah menyebut berbakti kepada si ibu adalah amal yang paling utama bagi orang itu.
Ketiga, karena ia melakukan kebaikan yang sangat besar pahalanya. Berbuat sesuatu untuk orang lain besar pahalanya. Bahkan Rasulullah saw. berkata, “Seandainya aku berjalan bersama saudaraku untuk memenuhi suatu kebutuhannya, maka itu lebih aku cintai daripada I;tikaf sebulan di masjidku ini.” (Thabrani). Subhanallah.
Keempat, memberi manfaat kepada orang lain tanpa pamrih, mengundang kesaksian dan pujian orang yang beriman. Allah swt. mengikuti persangkaan hambanya. Ketika orang menilai diri kita adalah orang yang baik, maka Allah swt. menggolongkan kita ke dalam golongan hambanya yang baik-baik.
Pernah suatu ketika lewat orang membawa jenazah untuk diantar ke kuburnya. Para sahabat menyebut-nyebut orang itu sebagai orang yang tidak baik. Kemudian lewat lagi orang-orang membawa jenazah lain untuk diantar ke kuburnya. Para sahabat menyebut-nyebut kebaikan si mayit. Rasulullah saw. membenarkan. Seperti itu jugalah Allah swt. Karena itu di surat At-Taubah ayat 105, Allah swt. menyuruh Rasulullah saw. untuk memerintahkan kita, orang beriman, untuk beramal sebaik-baiknya amal agar Allah, Rasul, dan orang beriman menilai amal-amal kita. Di hari akhir, Rasul dan orang-orang beriman akan menjadi saksi di hadapan Allah bahwa kita seperti yang mereka saksikan di dunia.
Untuk bisa menjadi orang yang banyak memberi manfaat kepada orang lain, kita perlu menyiapkan beberapa hal dalam diri kita. Pertama, tingkatkan derajat keimanan kita kepada Allah swt. Sebab, amal tanpa pamrih adalah amal yang hanya mengharap ridho kepada Allah. Kita tidak meminta balasan dari manusia, cukup dari Allah swt. saja balasannya. Ketika iman kita tipis terkikis, tak mungkin kita akan bisa beramal ikhlas Lillahi Ta’ala.
Ketika iman kita memuncak kepada Allah swt., segala amal untuk memberi manfaat bagi orang lain menjadi ringan dilakukan. Bilal bin Rabah bukanlah orang kaya. Ia hidup miskin. Namun kepadanya, Rasulullah saw. memerintahkan untuk bersedekah. Sebab, sedekah tidak membuat rezeki berkurang. Begitu kata Rasulullah saw. Bilal mengimani janji Rasulullah saw. itu. Ia tidak ragu untuk bersedekah dengan apa yang dimiliki dalam keadaan sesulit apapun.
Kedua, untuk bisa memberi manfaat yang banyak kepada orang lain tanpa pamrih, kita harus mengikis habis sifat egois dan rasa serakah terhadap materi dari diri kita. Allah swt. memberi contoh kaum Anshor. Lihat surat Al-Hasyr ayat 9. Merekalah sebaik-baik manusia. Memberikan semua yang mereka butuhkan untuk saudara mereka kaum Muhajirin. Bahkan, ketika kaum Muhajirin telah mapan secara financial, tidak terbetik di hati mereka untuk meminta kembali apa yang pernah mereka beri.
Yang ketiga, tanamkan dalam diri kita logika bahwa sisa harta yang ada pada diri kita adalah yang telah diberikan kepada orang lain. Bukan yang ada dalam genggaman kita. Logika ini diajarkan oleh Rasulullah saw. kepada kita. Suatu ketika Rasulullah saw. menyembelih kambing. Beliau memerintahkan seoran sahabat untuk menyedekahkan daging kambing itu. Setelah dibagi-bagi, Rasulullah saw. bertanya, berapa yang tersisa. Sahabat itu menjawab, hanya tinggal sepotong paha. Rasulullah saw. mengoreksi jawaban sahabat itu. Yang tersisa bagi kita adalah apa yang telah dibagikan.
Begitulah. Yang tersisa adalah yang telah dibagikan. Itulah milik kita yang hakiki karena kekal menjadi tabungan kita di akhirat. Sementara, daging paha yang belum dibagikan hanya akan menjadi sampah jika busuk tidak sempat kita manfaatkan, atau menjadi kotoran ketika kita makan. Begitulah harta kita. Jika kita tidak memanfaatkannya untuk beramal, maka tidak akan menjadi milik kita selamanya. Harta itu akan habis lapuk karena waktu, hilang karena kematian kita, dan selalu menjadi intaian ahli waris kita. Maka tak heran jika dalam sejarah kita melihat bahwa para sahabat dan salafussaleh enteng saja menginfakkan uang yang mereka miliki. Sampai sampai tidak terpikirkan untuk menyisakan barang sedirham pun untuk diri mereka sendiri.
Keempat, kita akan mudah memberi manfaat tanpa pamrih kepada orang lain jika dibenak kita ada pemahaman bahwa sebagaimana kita memperlakukan seperti itu jugalah kita akan diperlakukan. Jika kita memuliakan tamu, maka seperti itu jugalah yang akan kita dapat ketika bertamu. Ketika kita pelit ke tetangga, maka sikap seperti itu jugalah yang kita dari tetangga kita.
Kelima, untuk bisa memberi, tentu Anda harus memiliki sesuatu untuk diberi. Kumpulkan bekal apapun bentuknya, apakah itu finansial, pikiran, tenaga, waktu, dan perhatian. Jika kita punya air, kita bisa memberi minum orang yang harus. Jika punya ilmu, kita bisa mengajarkan orang yang tidak tahu. Ketika kita sehat, kita bisa membantu beban seorang nenek yang menjinjing tak besar. Luangkan waktu untuk bersosialisasi, dengan begitu kita bisa hadir untuk orang-orang di sekitar kita.


Deklarasi Djuanda

Deklarasi Djuanda yang dicetuskan pada tanggal 13Desember 1957 oleh Perdana Menteri Indonesia pada saat itu, Djuanda Kartawidjaja, adalah deklarasi yang menyatakan kepada dunia bahwa laut Indonesia adalah termasuk laut sekitar, di antara dan di dalam kepulauan Indonesia menjadi satu kesatuan wilayah NKRI.
Sebelum deklarasi Djuanda, wilayah negara Republik Indonesia mengacu pada Ordonansi Hindia Belanda 1939, yaitu Teritoriale Zeeën en Maritieme Kringen Ordonantie 1939 (TZMKO 1939). Dalam peraturan zaman Hindia Belanda ini, pulau-pulau di wilayah Nusantara dipisahkan oleh laut di sekelilingnya dan setiap pulau hanya mempunyai laut di sekeliling sejauh 3 mil dari garis pantai. Ini berarti kapal asing boleh dengan bebas melayari laut yang memisahkan pulau-pulau tersebut.
Deklarasi Djuanda menyatakan bahwa Indonesia menganut prinsip-prinsip negara kepulauan (Archipelagic State) yang pada saat itu mendapat pertentangan besar dari beberapa negara, sehingga laut-laut antarpulau pun merupakan wilayah Republik Indonesia dan bukan kawasan bebas. Deklarasi Djuanda selanjutnya diresmikan menjadi UU No.4/PRP/1960 tentang Perairan Indonesia. Akibatnya luas wilayah Republik Indonesia berganda 2,5 kali lipat dari 2.027.087 km² menjadi 5.193.250 km² dengan pengecualian Irian Jaya yang walaupun wilayah Indonesia tapi waktu itu belum diakui secara internasional.
Berdasarkan perhitungan 196 garis batas lurus (straight baselines) dari titik pulau terluar ( kecuali Irian Jaya ), terciptalah garis maya batas mengelilingi RI sepanjang 8.069,8 mil laut.
Setelah melalui perjuangan yang penjang, deklarasi ini pada tahun 1982 akhirnya dapat diterima dan ditetapkan dalam konvensi hukum laut PBB ke-III Tahun 1982 (United Nations Convention On The Law of The Sea/UNCLOS 1982). Selanjutnya delarasi ini dipertegas kembali dengan UU Nomor 17 Tahun 1985 tentang pengesahan UNCLOS 1982 bahwa Indonesia adalah negara kepulauan.
Pada tahun 1999, Presiden Soeharto mencanangkan tanggal 13 Desember sebagai Hari Nusantara. Penetapan hari ini dipertegas dengan terbitnya Keputusan Presiden RI Nomor 126 Tahun 2001, sehingga tanggal 13 Desember resmi menjadi hari perayaan nasional.
Isi dari Deklarasi Juanda, 13 Desember 1957 :
1. Bahwa Indonesia menyatakan sebagai negara kepulauan yang mempunyai corak tersendiri
2. Bahwa sejak dahulu kala kepulauan nusantara ini sudah merupakan satu kesatuan
3. Ketentuan ordonansi 1939 tentang Ordonansi, dapat memecah belah keutuhan wilayah Indonesia dari deklarasi tersebut mengandung suatu tujuan :
a. untuk mewujudkan bentuk wilayah Kesatuan Republik Indonesia yang utuh dan bulat
b.Untuk menentukan batas-batas Wilayah NKRI, sesuai dengan azas Negara Kepulauan.
c. Untuk mengatur lalu lintas damai pelayaran yang lebih menjamin keamanan dan keselamatan NKRI.

 

Benci dan Cinta

  
Rasulullah SAW bersabda, “Syurga itu dikelilingi dengan hal-hal yang tidak disukai (oleh hawa nafsu) dan sedangkan neraka itu dikelilingi dengan hal-hal yang disukai hawa nafsu.” (HR. Bukhari dan Muslim).
Manusia bisa begitu sangat sulitnya meninggalkan hal-hal di dicintai hawa nafsunya, seperti bermalas-malasan, menunda-nunda ibadah, foya2, melakukan hal-hal yang tidak bermanfaat untuk akhirat, seperti ke diskotik, ghibah, mencari2 kesalahan orang lain, dsb. Akan tetapi begitu mudahnya meninggalkan hal-hal yang dibenci oleh hawa nafsunya, seperti bangun tahajut, membaca Al Quran, saum sunnah, shalat sunnah, sedekah, dsb. Coba saja kita renungkan, betapa mudahnya sebagian orang melangkahkan kaki, untuk menghabiskan waktu jalan-jalan ke pusat pertokoan dan membelanjakan uangnya, bahkan kadang untuk hal-hal yang sebenarnya tidak perlu dan begitu mudahnya orang menghabiskan waktu untuk ”ngerumpi.” Namun sebaliknya kalau kita perhatikan, betapa terasa berat langkah sebagian dari mereka, untuk melangkahkan kakinya ke Masjid, majelis taklim atau menginfakkan uang mereka untuk fakir miskin, serta beratnya mereka mengambil air wudhu dan membaca Al-Quran.
Pada umumnya manusia lebih suka dan lebih mudah menerima ujian kesenangan dan kadang ada yang sulit untuk menerima dengan ikhlas dan lapang dada, saat diberi ujian kesempitan. Ini semua terkait dengan nafsu manusia, ujian kesenangan adalah hal-hal yang disukai manusia sedangkan ujian kesulitan adalah hal-hal yang dibenci nafsu manusia. Tapi jika seseorang mampu bersabar dalam menghadapi ujian kesulitan dengan melawan kehendak hawa nafsunya, berarti dia mampu menahan diri dalam kondisi sulit, maka Allah SWT akan mengganjarnya dengan surga. Sesungguhnya surga bisa di raih dengan sesuatu yang tidak disukai oleh hawa nafsu manusia, yaitu dengan menundukkan hawa nafsu manusia, khususnya hawa nafsu ammarah bissu’
Cinta dan benci adalah dua sifat fitrah yang selalu melekat pada diri manusia, kapanpun dan di manapun, kedua sifat tersebut merupakan karunia dari Allah sejak manusia diciptakan. Cinta tidak selalu bermuatan positif, begitu juga sebaliknya, benci tidak selalu ber­muatan negatif, sebagaimana yang dipahami oleh banyak orang. Di dalam Islam, kedua kata yang berlawanan arti ini bisa sama-sama bermakna positif apabila disalurkan sesuai dengan aturan Allah. Begitu juga kebalikannya, keduanya dapat bermakna negatif jika disalur­kan secara ber­tentangan dengan aturan-Nya. Cinta dan benci bisa menjadi ladang amal shalih kalau dikelola dengan baik dan sesuai aturan Islam. Cinta yang tidak bermuatan positif, apabila cinta kita terhadap mahluk membabi buta, melebihi kecintaan kita kepada Allah, begitupun dengan benci yang bermuatan negatif, adalah merupakan kebencian tanpa alasan yang jelas. Sedangkan untuk cinta dan benci yang positif, akan saya uraikan lebih lanjut sebagai berikut:
Cinta dan benci, bila kita bisa menempatkannya secera tepat dan proposional, maka akan bernilai ibadah, seperti bila kita mencintai dan membenci karena Allah. Saling cinta mencintai dan sayang menyayangi karena Allah, merupakan cerminan dari kebenaran cinta kepada Allah. Sebab cinta kepada Allah akan melahirkan cinta kepada apa-apa yang dicintai Allah dan mencintai kepada amalan2 yang dapat mendekatkan diri kepada Allah. Mencintai seseorang karena Allah, bukanlah cinta nafsu, tapi mencintai para Nabi, orang2 saleh dan orang2 mukmin adalah bagian yang tak terpisahkan dari kecintaan kepada Allah. Jika kita mencintai seseorang karena Allah, sebenarnya kita mencintai Allah juga, karena pada diri seorang yang kita cintai (orang mukmin) itu ada daya tarik tersendiri yang akan mendorong cinta kita yang lebih mendalam kepada Allah.
Sedangkan yang dimaksud dengan benci karena Allah adalah mencurahkan ketidaksukaan dan kebencian kepada orang-orang yang mempersekutukanNya dan kepada orang-orang yang keluar dari ketaatan kepadaNya dikarenakan mereka telah melakukan perbuatan yang mendatangkan kemarahan dan kebencian Allah, setelah sebelumnya kita coba memperingatkan dan mengajaknya kembali kejalan Allah, namun bila mereka tetap berada dalam kefasikan dan berbuat maksiat dan kerusakan, kita harus membencinya karena Allah. Dan atau orang2 kafir yang memusuhi agama islam, meskipun mereka itu adalah orang2 yang dekat hubungan dengan kita, sebagaimana firman Allah SWT : ”Kamu tak akan mendapati kaum yang beriman pada Allah dan hari akhirat, saling berkasih-sayang dengan orang-orang yang menentang Allah dan Rasul-Nya, sekalipun orang-orang itu bapak-bapak, atau anak-anak atau saudara-saudara ataupun keluarga mereka..” (QS. Al Mujaadilah: 22)
Kembali kebahasan semula, tentang betapa sulitnya, manusia meninggalkan apa2 yang disukai atau dicintainya (dan dicintai oleh hawa nafsunya) dan sebaliknya betapa mudahnya manusia meninggalkan apa2 yang dibencinya (dibenci hawa nafsunya). Dan sebagaimana kita ketahui bersama, bahwa Allah SWT mengilhamkan kepada jiwa manusia dua jalan, kejahatan dan ketakwaan. ”Dan (demi) jiwa dan penyempurnaannya, maka Allah mengilhamkan kepada jiwa itu (jalan) kefasikan dan ketakwaannya, sesungguhnya beruntunglah orang yang menyucikan jiwa itu, dan sesungguhnya merugilah orang yang mengotorinya.” (QS Asy-Syams [91]: 7-10).
Kita diberi pilihan, memilih jalan yang mana, kita diberi akal untuk membedakan mana yang benar dan mana yang salah. Kita juga diberi ujian sebagai pembuktian keimanan, apakah dengan ujian itu, tetap pada keimanan atau berpaling dan melakukan yang salah. Apakah manusia mengira bahwa mereka akan dibiarkan mengatakan, `Kami telah beriman,’ sedangkan mereka tidak diuji lagi (QS. Al Ankabuut : 2) Kita dikaruniai akal pikiran untuk memilih jalan ketakwaan atau kefasikan. Bila jalan takwa yang kita pilih, maka kemenangan yang kita dapatkan, “Dan barang siapa yang taat kepada Allah dan rasul-Nya dan takut kepada Allah dan bertakwa kepada-Nya, maka mereka adalah orang- orang yang mendapat kemenangan” (QS. An-Nur {24}: 52).
Dan bagi yang memilih jalan kefasikan, maka nerakalah tempatnya kelak, ”Dan adapun orang-orang yang fasik maka tempat mereka adalah jahannam. Setiap kali mereka hendak keluar daripadanya, mereka dikembalikan ke dalamnya dan dikatakan kepada mereka: “Rasakanlah siksa neraka yang dahulu kamu mendustakannya” (QS. As Sajdah :20). ”Fasik” didefinisikan : orang yang banyak berbuat maksiat, meninggalkan perintah Allah, keluar dari jalan benar dan agama. Fasik juga didefinisikan orang yang melakukan dosa besar atau sering melakukan dosa kecil. Fasik secara bahasa bermakna keluar atau menyimpang dari sesuatu. Menurut para ulama, seperti Al-Qurthubi, seseorang disebut fasik apabila sudah keluar dari ketaatannya kepada Allah, seperti berbuat kemaksiatan secara terus-menerus.
Sekarang cobalah kita tanyakan dengan jujur pada diri sendiri, sudahkah kita meninggalkan hal2 yang disenangi dan dicintai oleh hawa nafsu kita selama ini? Dan sudahkah kita menempatkan cinta dan benci secara tepat dan proposional? Sebagaimana telah kita ketahui bersama, bahwa Allah mengilhamkan pada jiwa kita dua jalan, sekarang coba tanyakan pada hati nurani kita, selama ini, semua yang kita lakukan dalam hidup, lebih mengarah pada jalan yang mana, jalan ketakwaan atau kefasikan? Hanya kita sendiri yang bisa menjawabnya dengan jujur. Dan apabila kita temui jawabannya, tenyata masih perlu banyak perbaikan, maka perbaikilah, sebelum terlambat.

 

PEMERINTAHAN MONARKI

  

BENTUK PEMERINTAHAN MONARKI/KERAJAAN
A. Bentuk Pemerintahan Kerajaan atau Monarki
Monarki, berasal dari bahasa Yunani monos (µ????) yang berarti satu, dan archein (a??e??) yang berarti pemerintah. Monarki merupakan sejenis pemerintahan di mana Raja menjadi Kepala Negara. Monarki atau sistem pemerintahan kerajaan adalah sistem tertua di dunia.Garner menyatakan; setiap pemerintahan yang didalamnya menerapkan kekuasaan yang akhir atau tertinggi pada personel atau seseorang, tampa melihat pada sumber sifat – sifat dasar pemilihan dan batas waktu jabatannya maka itulah monarki. Pendapat lain menegaskan, monarki merupakan kehendak atau keputusan seseorang yang akhirnya berlaku dalam segala perkara didalam pemerintahan.
Jellinek menegaskan; monarki adalah pemerintahan kehendak satu fisik dan menekankan bahwa karakteristik sifat – sifat dasar monarki adalah kompetensi, untuk memperlihatkan kekuasaan tertinggi Negara.  Pada awal kurun ke-19, terdapat lebih 900 buah tahta kerajaan di dunia, tetapi menurun menjadi 240 buah dalam abad ke-20. Sedangkan pada dekade kelapan abad ke-20, hanya 40 takhta saja yang masih ada. Dari jumlah tersebut, hanya empat negara mempunyai raja atau monarki yang mutlak dan selebihnya terbatas kepada sistem konstitusi.
Perbedaan diantara raja dengan presiden sebagai kepala negara adalah raja menjadi kepala negara sepanjang hayatnya, sedangkan presiden biasanya memegang jabatan ini untuk jangka waktu tertentu. Namun dalam negara-negara federasi seperti Malaysia, raja atau agong hanya berkuasa selama 5 tahun dan akan digantikan dengan raja dari negeri lain dalam persekutuan. Dalam zaman sekarang, konsep monarki mutlak hampir tidak ada lagi dan kebanyakannya adalah monarki konstitusional, yaitu raja yang terbatas kekuasaannya oleh konstitusi. Monarki juga merujuk kepada orang atau institusi yang berkaitan dengan Raja atau kerajaan di mana raja berfungsi sebagai kepala eksekutif.
Monarki demokratis atau dalam bahasa Inggris Elective Monarchy, berbeda dengan konsep raja yang sebenarnya. Pada kebiasaannya raja itu akan mewarisi tahtanya (hereditary monarchies). Tetapi dalam sistem monarki demokratis, takhta raja akan bergilir-gilir di kalangan beberapa sultan. Malaysia misalnya, mengamalkan kedua sistem yaitu kerajaan konstitusional serta monarki demokratis.
Bagi kebanyakan negara, raja merupakan simbol kesinambungan serta kedaulatan negara tersebut. Selain itu, raja biasanya ketua agama serta panglima besar angkatan bersenjata sebuah negara. Contohnya di Malaysia, Yang di-Pertuan Agong merupakan ketua agama Islam, sedangkan di Britania Raya dan negara di bawah naungannya, Ratu Elizabeth II adalah ketua agama Kristen Anglikan. Meskipun demikian, pada masa sekarang ini biasanya peran sebagai ketua agama tersebut adalah bersifat simbolis saja.
Selain raja, terdapat beberapa jenis kepala pemerintahan yang mempunyai bidang kekuasaan yang lebih luas seperti Maharaja dan Khalifah.
B. Jenis – Jenis Monarki
1. Turun – temurun dan Elektif.
Monarki mungkin saja diklasifikasikan sebagai tahta turun – temurun dan elektif. Monarki secara turun – menurun adalah tipe yang normal. Kebanyakan monarki dahulunya dikenal dengan istilah turun – temurun. Dan kehidupan dari monarki turun – temurun ini memiliki banyak karakter. Monarki ala turun – menurun mewarisi tahta sesuai dengan peraturan rangkaian pergantian tertentu. Ahli waris laki- laki yang tertua biasanya menjadi raja, menggantikan posisi raja atau ayahnya sendiri. Rangkaian pergantian bisa juga ditentukan dengan konstitusi atau melalui sebuah aksi legislature.
Peraturan tersebut memiliki bermacam rupa diberbagai Negara seluruh dunia. Awalnya kerajaan Roman merupakan monarki elektif. Masa kerajaan Roman dahulunya menganut pemilih dari kampus. Semenjak abad pertengahan konstitusi monarki elektif telah berubah dan bukan merupakan hal yang luar biasa. Bagaimanapun, perjalanan masa ke masa monarki ala elektif mengalami perubahan menuju monarki ala turun- temurun. Garner menganggap inggris sebagai monarki elektif, karena parlement menuntut dan menggunakan hukum mengatur mutlak rangkaian pergantian.
2. monarki mutlak dan terbatas.
Monarki juga bisa diklasifikasikan sebagai mutlak dan terbatas. Garner menyatakan monarki mutlak adalah monarki yang benar – benar raja. Kehendaknya adalah hukum dalam merespek segala perkara yang ada. Dia tidak dijilid atau dibatasi oleh apapun kecuali kemauannya sendiri. Dibawah sistem ini Negara dan pemerintahan tampak identik. Louis XIV raja Negara francis menyatakan dengan sombongnya bahwa” aku adalah Negara. Ini merupakan deskripsi yang tepat dari posisi monarki yang mutlak. Tsart dari Russia, Raja Prussia dan kaisar Ottoman merupakan contoh monarki yang mutlak.
Monarki terbatas memiliki kekuatan yang dibatasi oleh konstitusi yang tertulis atau dengan prinsip fundamental yang tak tertulis, seperti monarkinya Negara inggris. Monarki dinegara England hanya sebatas nama saja dalam pemerintahan; raja adalah pemerintahan namun tidak memerintah. Kekuatan atau kekuasaan merupakan teori saja, namun pemerintahan dipimpin oleh yang lainnya.
Monarki dinegara jepang juga terbatas. Disana kaisar tidak memiliki kekuasaan apapun dipemerintahan. jadi, jelasnya raja adalah simbol Negara dan kesatuan rakyat’’ didalam pengertian yang nyata, monarki yang terbatas hanyalah bentuk pemerintahan yang demokrasi.
Kepala negara mempunyai gelar berbeda di negara yang berbeda sesuai dengan bentuk negara tersebut.
*      

powered by Blogger | WordPress by Newwpthemes | Converted by BloggerTheme